Uniknya Upacara Perang Pisang

4BC_Upacara-Perang-Pisang

Kutaraya.com. Wah, membaca judul di atas saja sudah membuat kita membayangkan bertapa serunya acara tersebut, bukan ? perang satu ini disebut dengan mesabatan biu, kegiatan ini merupakan tradisi dari desa Tenganan Dauh Tukad, kecamatan Maggis kabupaten Karangasem- Bali.

Lokasinya berjarak  sekitar 60 km di arah timur kota Denpasar dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar  70 menit perjalanan.

Tradisi unik ini merupakan upacara yang dilakukan untuk memilih ketua dan wakil dari pemuda di desa Tenganan Dauh Tukad, atau yang sering disebut dengan Bali Aga.  Upacara ini dilakukan guna mengetes mental dan kedisiplinan para calon, sebelum terpilih menjadi pemimpin.

Menarik sekali bukan ? tradisi ini dilakukan bersamaan dengan aci katiga ( upacara pada bulan ketiga penanggalan tengananyang jatuh pada akhir maret dan awal april ). Sebelum prosesi dimulai, pemuda diwajibkan untuk memetik pisang yang ada di desa.

Setelah itu akan dipilih 16 pemuda  oleh kelian adat sebagai lawan dalam perang melawan calon ketua dan wakil. Mereka akan dikumpulkan di suatu tempat  di ujung jalan dengan menggunakan pakaian adat sepeti kain kamben, dan udeng (penutup kepala). Dengan telanjang dada mereka akan menunggu petunjuk untuk menyerang oleh panitia acara  / kelian adat  setempat.

Diujung jalan yang berlawanan akan berdiri calon ketua dan wakil pemuda di desa tersebut. semaraknya upacara yang diiringi dengan musik gamelan khas Bali menambah keseruan perang pisang tersebut. Warga desa yang semula berkumpul di pura bale agung  akan diminta untuk berjajar disepanjang jalan yang akan dilewati oleh calon ketua dan wakil.

Aba-aba yang ditunggu ditandai dengan bunyi kulkul (kentongan khas bali ).  Bunyi kulkul bergema ! tandanya perang pisang dimulai ! pemuda segera berlari dengan langkah kecil sambil melempari calon ketua dan wakilnya.

Calon ketua dan wakil akan menjadi sasaran lemparan pisang, dengan wajah memar, merah-merah di permukaan kulit dan rasa sakit harus mereka bendung , karena mereka harus terus berjalan menuju pura.

Rasa sakit yang dirasakan kedua pemuda bukanlah penghalang mereka untuk sampai di pura bale agung. Perang pisang ini akan dihentikan bila mereka sampai di pintu pura. Mereka dinyatakan lolos! mereka berhak dikukuhkan sebagai ketua  dan wakil dari pemuda di desa tersebut.

Pelaksanaan upacara ini akan ditutup dengan acara makan bersama atau dikenal dengan nama megibung ,di pura bale agung yang diikuti oleh warga desa tersebut. Tradisi makan bersama ini ternyata merupakan cara untuk mendamaikan permusuhan, dan ungkapan rasa syukur kepada tuhan yang  maha esa.

Duduk melingkar untuk makan bersama dengan  harapan agar anak-anak tersebut kelak dikemudian hari akan  tetap menjaga dan melestarikan adat istiadat mereka.
Nah seru banget kan? apalagi jika teman-teman dapat melihat secara langsung acara ini. Ya, tunggu apa lagi ? ayo datang dan saksikan pertunjukan yang menarik ini !

Leave a Reply

%d bloggers like this: