Pesona Tersembunyi Gunung Batur (Bagian 1)

Waktu masih menunjukkan 01.30 WITA, tapi tim kutaraya adventure harus berangkat meninggalkan Denpasar dan menuju salah satu lokasi obyek wisata di Bali. Kali ini kami menuju ke salah satu daerah pegunungan Kintamani dan memakan waktu perjalanan sekitar dua jam. Tepat pukul 3.30. rombongan kami sampai di banjar Serongga, yang menjadi titik awal pendakian kami. Setiba di lokasi kami disambut oleh seorang dari warga lokal yang membantu kami dan sekaligus menemani kami dalam perjalanan pendakian kali ini.

6Saat kami memulai pendakian sekitar pukul 4.15 dini hari, suasana masih tampak gelap dan ayam2 mulai berkokok. Diawal perjalanan pendakian selama 30 menit, medannya masih tampak tidak terlalu berat karena masih landai. Namun di waktu 30 menit berikutnya medan semakin berat dan menanjak. Medan berpasir semakin membuat kami harus bisa mengatur napas kami agar tetap bisa mencapai tujuan kami. Beberapa saat kami berhenti untuk sekedar beristirahat dan menenggak minuman untuk menghilangkan rasa haus kami.

Dalam pendakian ini, terdapat 3 buah tanjakan tajam yang disebut “manggar” oleh masyarakat sekitarnya. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di bagian pertengahan dan seringkali disebut dengan “madya”. Pada bagian tengah ini, medannya sudah kembali landai dan tidak terlalu menanjak. Kamipun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak sambil mengambil gambar dan menikmati pemandangan subuh. Dari titik ini , kamipun melanjutkan perjalanan menuju puncak dari gunung Batur. Waktu yang diperlukan dari pertengahan ini sekitar 30 menit lagi dan medannya juga tidak terlalu berat karena sudah seringkali dilewati oleh para penduduk lokal yang mencari kayu bakar maupun rumput.

Saat tim kami tiba di puncak, pemandangan yang sangat luar biasa indah terlihat. Di langit bagian timur, terlihat semburan warna keemasan dan masih terlihat ditutupi kabut tipis.  Kamipun tidak lupa untuk mengabadikan momen-momen berharga ini dengan kamera kami masing-masing. Di titik puncak ini, kami menghabiskan waktu sekitar 40 menit lebih karena kami juga menyempatkan diri untuk memasak telur dengan menggunakan uap panas yang terdapat di kawah-kawah kecil pada bagian puncak ini.  Sambil menikmati sarapan pagi di pagi hari, kami selalu menikmati setiap perubahan warna dari lagit diatas puncak gunung batur ini.

Bersambung…..

Leave a Reply

%d bloggers like this: