Archive for: February 2014

Jet lag, pola makan menjadi terganggu

5Bukan hanya perbedaan waktu, cuaca ekstrem juga mempersulit tubuh menyesuaikan diri dengan tempat baru. Jenis makanan yang berbeda dengan makanan kampung halaman misalnya sering membuat malas makan. Semuanya membuat jam makan tubuh jadi berubah. Saat sarapan jadi makan siang. Saat makan malam jadi cemilan sore.

Profesor Hardinsyah, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Gizi dan Pangan Indonesia atau PERGIZI Pangan Indonesia, mengungkapkan tingkat kesulitan tubuh untuk beradaptasi dengan masa jet lag saat di perjalanan tergantung perbedaan jam dengan waktu asal. Menurutnya kalau perbedaannya di bawah 6 jam, tubuh akan lebih mudah menyesuaikan diri. “Bila perbedaannya lebih dari 6 jam biasanya memerlukan masa adaptasi,” ungkapnya.

Cuaca juga merupakan faktor besar dalam menentukan jenis makanan yang dibutuhkan. Kebutuhan asupan makanan di cuaca panas tentu berbeda dengan di daerah cuaca dingin. Profesor yang juga Guru Besar di Institut Pertanian Bogor ini menjelaskan, perjalanan di daerah dingin memerlukan makanan penghangat badan.

Dia mencontohkan beberapa makanan yang cocok di daerah cuaca dingin adalah lauk pauk yang digoreng atau dibakar, berbagai jenis sup dan tentunya minuman hangat.

Kebalikannya dengan daerah cuaca panas, Hardinsyah mengatakan, perjalanan di daerah panas memerlukan makanan penyejuk badan seperti buah segar yang banyak mengandung air, minuman dingin terutama air putih.

Dia menekankan agar para pelancong membatasi minum teh dan kopi. “Kafein yang dikandung kopi cenderung meningkatkan frekuensi buang air, dan ini bisa merepotkan dalam perjalanan,” katanya.

Beberapa tips agar masa jet lag tidak terlalu menggangu pola makan saat di perjalanan adalah:

1. Makan dalam porsi secukupnya jangan sampai kekenyangan. “Kekenyangan akan menyulitkan biologis tubuh menyesuaikan”, ungkap Hardinsyah.

Saat di perjalanan tetap makan tiga kali sehari.

2. Atur pola pikir untuk mengikuti waktu lokal di mana kita berada. “Kalau negara tujuan sudah malam maka jangan dibayangkan siang seperti di negara asal,” ujar Hardinsyah kepada Kompas.com.

3. Lakukan aktivitas yang dapat membantu tubuh mudah mengantuk dan tidur dengan nyenyak. Hardinsyah mencontohkan beberapa aktivitas yang dimaksud antara lain olahraga, pijat dan mandi air hangat atau sauna sebelum tidur.

4. Hardinsyah berpesan agar pada masa jet lag hindari minum obat tidur dan minum kopi karena justru akan menghilangkan rasa kantuk. Bila sudah malam, cukup pejamkan mata maka tubuh akan ikut tertidur. “Orang dewasa cukup tidur 6 jam sehari dalam kondisi demikian,” tambah Profesor Hardinsyah.