Archive for: January 2014

Bingung merayakan Imlek di Bali?

dim9Hari Raya Imlek identik dengan penampilan Barongsai dan musik China. Hote-hotel berbintang di Bali juga menyediakan hidangan oriental dan hiburan malamnya. Berikut ini tempat merayakan Imlek seru!

Seminyak. Anda bisa memulai hari di tahun baru dengan sarapan di aneka pangsit sambil melihat pertunjukan memasak di hotel The Royal Beach Seminyak. Saat makan siang, di hotel ini Anda bisa menikmati aneka mi di Restoan Capris. Untuk makan malam, hidangan bisa dinikmati di restoran Husk dengan harga Rp 250.000 (++).

Selain makan siang, tamu bisa menikmati aneka aktivitas seperti ramalan menggunakan Shio, lomba mewarnai untuk anak-anak, dan kompetisi pasir berbentuk kuda sampai membuat tato temporer motif China.

Kuta. Sheraton Bali Kuta Resort ini menyediakan hidangan prasmanan berupa aneka kuliner oriental. Prasmanan bisa dinikmati mulai 27 Januari hingga 9 Februari 2014.

Hidangan prasmanan dibandrol dengan harga Rp 270.000 (++) sudah termasuk teh hijau China. Sajian dihidangkan di restoran Feast. Dalam prasmanan tersedia aneka masakan China seperti Yan Shan Yu, Beijing Kaoya atau bebek panggang, sampai aneka dim sum.

Jimbaran. Selama periode 31 Januari hingga 3 Februari 2014, Le Meridien Bali akan menghidangkan menu yang terdiri dari 8 hidangan China. Menu tersebut bergaya makan malam keluarga.

Makan malam ini tersedia di Bamboo Chic Restaurant dengan harga Rp 288.888 net per orang. Paket tersebut sudah termasuk gratis teh hijau China. Acara juga dihibur dengan pertunjukan barongsai.

Nusa Dua. Di hotel Nusa Dua Beach Hotel & Spa menawarkan berbagai hidangan makan malam dalam bentuk prasmanan di Wedang Jahe Restaurant pada 30 Januari 2014.

Hidangan yang ditampilkan mulai dari dim sum, Jellyfish Salad, Grilled Pigeon Si Chuan Style, sampai Sauteed Tenderloin Beef with Garlic Pepper. Sementara hidangan penutup seperti Sago Pudding, Poached Apples in Tangerine Tea dan Chinese Egg Custard.

Desa Unik di Bali, Desa Tenganan!

1520376suvenirr1780x390Bosan hanya ke pantai saja saat di Bali? Coba saja wisata yang menarik satu ini berkunjung ke Desa Tenganan.

Desa yang unik dan terpencil ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat dan berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Denpasar, Bali.

Desa ini sangatlah tradisional karena dapat bertahan dari arus perubahan zaman yang sangat cepat dari teknologi. Walaupun sarana dan prasarana seperti listrik dan lain-lain masuk ke Desa Tenganan ini, tetapi rumah dan adat tetap dipertahankan seperti aslinya yang tetap eksotis. Ini karena masyarakat Tenganan mempunyai peraturan adat desa yang sangat kuat, yang mereka sebut dengan awig-awig yang sudah mereka tulis sejak abad 11 dan sudah diperbarui pada tahun 1842.

Ketika tempat wisata yang lain di Bali berkembang pesat seperti Pantai Kuta, Pantai Amed, yang sangat meriah dengan kehadiran hotel, café, dan kehidupan malamnya, Desa Tenganan tetap saja berdiri kokoh tidak peduli dengan perubahan zaman.

Desa ini tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Tidak hanya itu di desa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotis, walaupun masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah. Pasalnya peraturan desa adat/awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.

Untuk memasuki Desa Tenganan sangatlah unik. Sebelum masuk ke area Desa Tenganan, kita akan melalui sebuah loket. Di situ kita tidak diharuskan membayar karena tidak ada tiket/karcis yang dijual.

Sebagai gantinya kita memberikan sumbangan sukarela berapa saja seikhlas kita ke petugas di bangunan kayu yang semipermanen. Sebelum masuk wisatawan harus melalui gerbang yang cukup sempit yang hanya cukup dilewati oleh satu orang.

Penghasilan penduduk Desa Tenganan juga tidak jelas berapa pendapatannya, karena di sana masih menggunakan sistem barter di antara warganya. Di sana banyak tanaman, sawah, kerbau yang bebas berkeliaran di pekarangan rumah mereka.

Untuk mendongkrak potensi wisata, penduduk Desa Tenganan banyak menjual hasil kerajinan kepada turis. Art shop juga dapat kita lihat begitu kaki kita melangkah ke pintu masuk. Mereka menjual banyak kerajinan seperti anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini yang diukir di atas daun lontar yang sudah dibakar.

Paling terkenal adalah kain geringsing. Kain ini sangatlah unik karena dengan sekilas memandang kita dapat langsung mengetahui kalau kain tersebut memang buatan tangan. Kain ini termasuk mahal, dan hanya diproduksi di Desa Tenganan saja.

Waktu pengerjaannya pun memerlukan waktu cukup lama, karena karena warna–warna yang terdapat di kain gringsing ini berasal dari tumbuh-tumbuhan dan memerlukan perlakuan khusus.

“Walaupun banyak wisatawan yang semakin lama semakin banyak untuk datang di desa ini, namun sayang belanja suvenir mereka masih kurang,” ungkap I Made, pelukis lukisan mini di atas daun lontar.

Berada di desa ini kita merasakan suasana yang aman dan damai, para penduduk desa sangat ramah dan bersahabat. Kita dapat berkeliling areal desa tersebut dan menyaksikan aktivitas mereka sehari-hari. Saat yang paling tepat kita berada di sana pada saat sore hari, karena pada sore hari biasanya penduduk Desa Tenganan sudah melakukan aktivitasnya.

Mereka berkumpul di depan rumahnya masing-masing atau mereka keluar dan berkumpul bersama para penduduk yang lain. Pada kesempatan itu lah kita dapat menyaksikan dan melihat tingkah laku dan adat budaya tradisional mereka yang amat kental. Maka pantaslah jika mereka disebut dengan sebutan Bali Aga atau Bali Asli.

Berikut tips untuk Anda yang berencana berkunjung ke Desa Tenganan.

1. Biasanya pada bulan Juni diadakan upacara adat pesta perang pandan. Acara ini menarik banget! Sayang saya belum sempat ke sini pada saat acara berlangsung.

2. Setahu saya belum ada transportasi umum untuk mencapai Desa Tenganan. Tetapi ke sini dapat dijangkau dengan sepeda motor atau mobil pribadi.

3. Kerajinan khas desa adat Tenganan Pegringsingan selain kain tenun, ada juga ukir/lukis daun lontar. Kerajinan ini sangat menarik untuk dibeli karena unik untuk koleksi.

4. Seru deh kalau bisa berbaur dengan masyarakat lokal! Masyarakat di sini ramah dan kita bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup dari kearifan lokal mereka.